Di antara pergi dan bertahan, aku kehilangan diriku sendiri.

Ya Allah…

Malam ini aku kembali berbicara kepada-Mu, bukan karena aku tahu harus meminta apa, tetapi karena hanya kepada-Mu aku bisa menangis tanpa harus menjelaskan mengapa.

Aku lelah.

Lelah berpura-pura baik-baik saja, lelah tersenyum di hadapan orang lain, sementara di dalam dada ini ada perang yang tak pernah selesai.

Aku berdiri di antara dua jalan yang sama-sama melukai.

Jika aku memilih pergi, yang kutinggalkan bukan sekadar sebuah tempat. Ada sepotong jiwaku yang bernama anak. Ada pelukan yang mungkin tak bisa lagi kurasakan setiap hari. Ada tawa yang hanya akan menjadi rindu. Dan ada panggilan “Ayah” yang mungkin hanya akan hidup dalam ingatan.

Namun jika aku tetap bertahan, aku melihat wajah-wajah yang mencintaiku perlahan berubah menjadi kecewa. Mereka memintaku pulang. Mereka ingin aku menyelamatkan diriku sendiri. Tetapi bagaimana mungkin aku menyelamatkan diriku, jika untuk melakukannya aku harus meninggalkan sebagian dari hatiku?

Aku benar-benar tidak tahu mana yang disebut benar.

Aku hanya tahu… aku lelah.

Jika air mata bisa berbicara, mungkin ia sudah lebih dulu menceritakan semua yang tak sanggup diucapkan bibirku.

Ya Allah…

Jika memang ini jalan yang telah Engkau tuliskan untukku, ajarkan aku menerima tanpa membenci takdir-Mu. Ajarkan aku ikhlas tanpa kehilangan cinta. Ajarkan aku melepaskan tanpa merasa menjadi ayah yang gagal.

Karena sesungguhnya, yang paling kutakuti bukanlah perpisahan.

Yang paling kutakuti adalah hari ketika anakku tumbuh dewasa, lalu bertanya, “Ayah, mengapa dulu Ayah pergi?”

Dan aku tidak memiliki jawaban yang mampu menghapus luka di matanya.

Aku mungkin terlihat tegar di mata banyak orang. Namun hanya Engkau yang tahu, setiap malam aku sedang mengumpulkan serpihan-serpihan diriku yang hancur, lalu memaksanya utuh kembali agar esok aku masih sanggup menjalani hidup.

Bila akhirnya aku harus memilih, izinkan pilihan itu tidak menjauhkan cintaku dari anakku. Sebab sejauh apa pun langkahku pergi, separuh hatiku akan selalu tinggal bersamanya.

Dan bila suatu hari nanti ia membaca tulisan ini, aku hanya ingin ia tahu satu hal…

Ayah tidak pernah pergi karena berhenti mencintaimu. Ayah hanya sedang kalah oleh keadaan yang tak mampu Ayah lawan sendirian.

Semoga suatu hari nanti, ketika luka ini mulai sembuh, kamu bisa melihat bahwa cinta seorang ayah tidak pernah diukur dari seberapa dekat jaraknya, melainkan dari seberapa besar ia tetap berusaha mencintai, meski hidup memaksanya berjalan di jalan yang paling berat.


Komentar

Postingan Populer