Laraku

 Ya Tuhan,

benar kiranya pernah ada waktu ketika aku meminta jeda dari hidup yang terasa terlalu berat untuk kupikul sendiri.
Aku meminta lelah ini digantikan oleh sesuatu yang bisa membuatku berhenti sejenak, berhenti dari tuntutan, berhenti dari kegagalan yang datang silih berganti, berhenti dari pikiran yang tak pernah benar-benar pulang ke tempat tenangnya.
Aku pernah berharap ada alasan yang membuatku bisa meletakkan semuanya untuk sementara, alasan yang membuat dunia mengerti bahwa aku juga sedang kehabisan tenaga.
Barangkali dalam keputusasaan itu ada doa yang meluncur tanpa kupikirkan baik-baik. Barangkali ada kalimat yang keliru saat aku mengadukan hidup kepada-Mu. Aku tidak tahu.
Sebab kini aku berdiri di hadapan kenyataan yang jauh lebih berat daripada yang pernah kubayangkan.
Bukan seperti ini yang kumaksud, Tuhan.
Aku hanya ingin beristirahat dari beban, bukan kehilangan arah. Aku hanya ingin meredakan sesak, bukan menambah luka yang baru. Aku hanya ingin diberi ruang bernapas, bukan dipaksa berjalan sambil menahan runtuh yang tak kunjung selesai.
Dulu aku mengira masalah hidup hanyalah perkara kuat atau tidak kuat menjalaninya. Namun semakin jauh aku melangkah, semakin aku sadar bahwa ada hari-hari ketika seseorang tetap berdiri, tetapi sebenarnya sudah roboh di dalam dirinya.
Ada hari ketika senyum hanya menjadi kewajiban. Ada hari ketika tawa sekadar cara agar orang lain tidak bertanya terlalu jauh. Ada hari ketika tubuh masih bekerja seperti biasa, tetapi jiwa telah lama duduk kelelahan di sudut yang tak terlihat siapa-siapa.
Dan jika boleh jujur, Tuhan, aku mulai takut pada diriku sendiri.
Takut karena semakin sering berpura-pura baik-baik saja. Takut karena semakin terbiasa memendam semuanya sendirian. Takut karena aku tidak lagi tahu mana yang benar-benar kuat dan mana yang sekadar bertahan.
Mungkin aku memang pernah meminta hidup yang lebih ringan. Namun bukan dengan cara seperti ini.
Sebab sakit yang datang dari persoalan hidup ternyata berbeda. Ia tidak terlihat seperti luka, tetapi perlahan menghabiskan harapan. Ia tidak mengeluarkan darah, tetapi membuat hati kehilangan banyak hal yang dahulu membuatnya tetap hidup.
Bukan sakit seperti ini, Tuhan.
Jika memang hidup harus tetap berjalan dengan segala ujiannya, maka cukupkan aku dengan bahu yang masih sanggup memikul, dengan hati yang masih mampu menerima, dan dengan harapan yang tidak habis meski berkali-kali dipatahkan oleh kenyataan.

Komentar

Postingan Populer