Di antara pergi dan bertahan, aku kehilangan diriku sendiri.
Ya Allah… Malam ini aku kembali berbicara kepada-Mu, bukan karena aku tahu harus meminta apa, tetapi karena hanya kepada-Mu aku bisa menangis tanpa harus menjelaskan mengapa. Aku lelah. Lelah berpura-pura baik-baik saja, lelah tersenyum di hadapan orang lain, sementara di dalam dada ini ada perang yang tak pernah selesai. Aku berdiri di antara dua jalan yang sama-sama melukai. Jika aku memilih pergi, yang kutinggalkan bukan sekadar sebuah tempat. Ada sepotong jiwaku yang bernama anak. Ada pelukan yang mungkin tak bisa lagi kurasakan setiap hari. Ada tawa yang hanya akan menjadi rindu. Dan ada panggilan “Ayah” yang mungkin hanya akan hidup dalam ingatan. Namun jika aku tetap bertahan, aku melihat wajah-wajah yang mencintaiku perlahan berubah menjadi kecewa. Mereka memintaku pulang. Mereka ingin aku menyelamatkan diriku sendiri. Tetapi bagaimana mungkin aku menyelamatkan diriku, jika untuk melakukannya aku harus meninggalkan sebagian dari hatiku? Aku benar-benar tidak tahu mana ya...